Helmy
145148832PA05
Teman Kelompok: Jessica Adella
Kesehatan Mental
Pengertian Halusinasi
Halusinasi adalah gangguan penyerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat individu sadar dengan baik. (Stuart & Sundenn, 1998).
Halusinasi, atau salah persepsi indrawi yang tidak berhubungan dengan stimulus eksternal yang nyata, mungkin melibatkan salah satu dari lima indra. (Townsend, 2002).
Halusinasi yaitu gangguan persepsi (proses penyerapan) pada panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar, pada pasien dalam keadaan sadar.
Halusinasi, atau salah persepsi indrawi yang tidak berhubungan dengan stimulus eksternal yang nyata, mungkin melibatkan salah satu dari lima indra. (Townsend, 2002).
Halusinasi yaitu gangguan persepsi (proses penyerapan) pada panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar, pada pasien dalam keadaan sadar.
Jenis-jenis Halusinasi
Halusinasi dibagi menjadi beberapa jenis, yitu sebagai berikut (Maramis, 2004):
1. Halusinasi penglihatan (visual, optik) adalah perasaan melihat sesuatu objek tetapi pada kenyataannya tidak ada.
2. Halusinasi pendengaran (auditif, akustik) adalah perasaan mendengar suara-suara,berupa suara manusia, hewan atau mesin, barang, kejadian alamiah dan musik.
3. Halusinasi penciuman (olfaktorik) adalah perasaan mencium sesuatu bau atau aroma tetapi tidak ada.
4. Halusinasi pengecapan (gustatorik) adalah kondisi merasakan sesuatu rasa tetapi tidak ada dalam mulutnya, seperti rasa logam.
5. Halusinasi peraba (taktil) adalah kondisi merasa diraba, disentuh, ditiup, disinari atau seperti ada ulat bergerak di bawah kulitnya.
6. Halusinasi kinestetik adalah kondisi merasa badannya bergerak dalam sebuah ruang, atau anggota badannya bergerak.
Proses Terjadinya Halusinasi
Pada gangguan jiwa skhizofrenia, halusinasi pendengaran merupakan hal yang paling sering terjadi, dapat berupa suara-suara bising atau kata-kata yang dapat mempengaruhi tingkah laku, sehingga dapat menimbulkan respon tertentu seperti bicara sendiri, marah, atau berespon lain yang membahayakan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.
Hal serupa dapat bersikap mengamati orang lain yang tidak bicara atau benda mati yang seakan-akan berbicara padanya. Halusinasi merupakan tanda khas dari gangguan skhizofrenia dan merupakan manifestasi dari metankolia involusi, psikosa, depresi, dan sindrom otak organik. (Nasution, 2003).
Hal serupa dapat bersikap mengamati orang lain yang tidak bicara atau benda mati yang seakan-akan berbicara padanya. Halusinasi merupakan tanda khas dari gangguan skhizofrenia dan merupakan manifestasi dari metankolia involusi, psikosa, depresi, dan sindrom otak organik. (Nasution, 2003).
Tahapan Halusinasi
Halusinasi dapat dibagi menjadi beberapa tahapan (Dalami, et al, 2009), yaitu:
a. Sleep Disorder
Sleep Disorder adalah halusinasi tahap awal sesorang sebelum muncul halusinasi.
1. Karakteristik. Klien merasa banyak masalah, ingin menghindar dari lingkungan, takut diketahui orang lain bahwa dirinya banyak masalah. Masalah makin terasa sulit karena berbagai stressor terakumulasi dan support system yang kurang dan persepsi terhadap masalah sangat buruk.
2. Perilaku. Klien susah tidur dan berlangsung terus menerus sehingga terbiasa menghayal, dan menganggap menghayal awal sebagai pemecah masalah.
b. Comforthing
Comforthing adalah halusinasi tahap menyenangkan: Cemas sedang.
1. Karakteristik. Klien mengalami perasaan yang mendalam seperti cemas, kesepian, rasa bersalah, takut, dan mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan cemas. Klien cenderung mengenali bahwa pikiran-pikiran dan pengalaman sensori berada dalam kendali kesadaran jika cemas dapat ditangani.
2. Perilaku. Klien terkadang tersenyum, tertawa sendiri, menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakkan mata yang cepat, respon verbal yang lambat, diam dan berkonsentrasi.
c. Condemning
Condemning adalah tahap halusinasi menjadi menjijikkan: Cemas berat.
1. Karakteristik. Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan. Klien mungkin merasa dipermalukan oleh pengalaman sensori dan menarik diri dari orang lain.
2. Perilaku. Ditandai dengan meningkatnya tanda-tanda sistem syaraf otonom akibat ansietas otonom seperti peningkatan denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah. Rentang perhatian dengan lingkungan berkurang, dan terkadang asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dan realita.
d. Controling
Controling adalah tahap pengalaman halusinasi yang berkuasa: Cemas berat.
1. Karakteristik. Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Isi halusinasi menjadi menarik. Klien mungkin mengalami pengalaman kesepian jika sensori halusinasi berhenti.
2. Perilaku. Perilaku klien taat pada perintah halusinasi, sulit berhubungan dengan orang lain, respon perhatian terhadap lingkungan berkurang, biasanya hanya beberapa detik saja, ketidakmampuan mengikuti perintah dari perawat, tremor dan berkeringat.
e. Conquering
Conquering adalah tahap halusinasi panik: Umumnya menjadi melebur dalam halusinasi.
1. Karakteristik. Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi. Halusinasi berakhir dari beberapa jam atau hari jika tidak ada intervensi terapeutik.
2. Perilaku. Perilaku panik, resiko tinggi mencederai, bunuh diri atau membunuh. Tindak kekerasan agitasi, menarik atau katatonik, ketidak mampuan berespon terhadap lingkungan.
Penyebab-Penyebab Halusinasi
Penyebab Halusinasi Auditori
Halusinasi pendengaran termasuk mendengar suara-suara, bunyi,
musik, dan suara yang tidak hadir dalam kenyataan. Sebuah contoh khas dari
seseorang yang menderita halusinasi pendengaran adalah bahwa ia mendengar
namanya dipanggil, tapi tidak ada apapunn ketika ia melihat sekitarnya. Selain
itu, ia akan mendengar suara-suara yang berbicara tentang dia, atau memberikan
komentar-komentar. Beberapa halusinasi ini penyebabnya adalah :
Skizofrenia
Skizofrenia adalah gangguan mental yang diderita oleh banyak orang dan merupakan proses bertahap pikiran yang memburuk. Orang yang menderita ini memiliki gejala umum dari halusinasi, delusi, dan sejenisnya. Gejala yang sangat umum dari gangguan ini adalah mendengar suara-suara yang benar-benar tidak ada. Itu bisa saja seorang pria atau wanita dan seseorang dari masa lalu atau sekarang. Ini bisa menjadi suara satu orang atau banyak bersamaan, biasanya sebagai bentuk percakapan dan komentar yang bersifat negatif dan memojokkan.
Skizofrenia adalah gangguan mental yang diderita oleh banyak orang dan merupakan proses bertahap pikiran yang memburuk. Orang yang menderita ini memiliki gejala umum dari halusinasi, delusi, dan sejenisnya. Gejala yang sangat umum dari gangguan ini adalah mendengar suara-suara yang benar-benar tidak ada. Itu bisa saja seorang pria atau wanita dan seseorang dari masa lalu atau sekarang. Ini bisa menjadi suara satu orang atau banyak bersamaan, biasanya sebagai bentuk percakapan dan komentar yang bersifat negatif dan memojokkan.
Depresi
Depresi adalah perasaan sedih dan putus asa yang ekstrim. Ini berbeda dari perasaan kesedihan normal yang dialami manusia, dengan cara yang tidak sanggup mereka hadapi. Seorang yang depresi tidak ingin melakukan kegiatan normal kehidupan sehari-hari dan justru membuatnya tergelincir ke lubang kesedihan yang lebih dalam. Efek depresi begitu kuat sehingga mengganggu fungsi normal dari pikiran manusia dan membuat diri seseorang menyebabkan halusinasi.
Depresi adalah perasaan sedih dan putus asa yang ekstrim. Ini berbeda dari perasaan kesedihan normal yang dialami manusia, dengan cara yang tidak sanggup mereka hadapi. Seorang yang depresi tidak ingin melakukan kegiatan normal kehidupan sehari-hari dan justru membuatnya tergelincir ke lubang kesedihan yang lebih dalam. Efek depresi begitu kuat sehingga mengganggu fungsi normal dari pikiran manusia dan membuat diri seseorang menyebabkan halusinasi.
Isolasi
Ketika seseorang terisolasi dan tidak memiliki hubungan sosial, tidak ada jalan keluar, tidak ada jalan untuk memanfaatkan kebutuhan normal. Terisolasi, terasing, dan kesepian, sering disertai dengan rasa takut, dapat memiliki dampak buruk pada pikiran orang dan menyebabkan dia menderita halusinasi.
Ketika seseorang terisolasi dan tidak memiliki hubungan sosial, tidak ada jalan keluar, tidak ada jalan untuk memanfaatkan kebutuhan normal. Terisolasi, terasing, dan kesepian, sering disertai dengan rasa takut, dapat memiliki dampak buruk pada pikiran orang dan menyebabkan dia menderita halusinasi.
Depresi, skizofrenia, isolasi, dan gangguan mental lainnya
adalah beberapa penyebab utama halusinasi pada orangtua yang ditelantarkan.
Penyebab Halusinasi Visual
Halusinasi visual terjadi ketika seseorang mulai melihat hal-hal
yang tidak ada. Ini adalah proses bertahap dan seseorang seperti melihat seperti
bayangan dan pola dalam berbagai bentuk, kilatan cahaya atau benda tetapi tidak
benar-benar ada. Berikut ini adalah beberapa penyebab halusinasi.
Delirium
Ini adalah penyakit psikotik yang mengarah ke gangguan ekstrim dari alam sadar seseorang dan akan semakin mengurangi kemampuan seseorang untuk mempertahankan kesadarannya. Pikiran ‘memainkan tipuan’ pada kesadaran seseorang sehingga menyebabkan halusinasi konstan.
Ini adalah penyakit psikotik yang mengarah ke gangguan ekstrim dari alam sadar seseorang dan akan semakin mengurangi kemampuan seseorang untuk mempertahankan kesadarannya. Pikiran ‘memainkan tipuan’ pada kesadaran seseorang sehingga menyebabkan halusinasi konstan.
Demensia
Orang yang menderita demensia sering melihat benda seperti bergerak sendiri ketika mereka masih terjaga. Mereka juga memvisualisasikan situasi dan kondisi dimana seakan-akan orang-orang hadir dan melakukan kegiatan yang kompleks. Oleh karena itu, halusinasi ini sering terjadi dan biasanya diambil sebagai tanda definitif demensia.
Orang yang menderita demensia sering melihat benda seperti bergerak sendiri ketika mereka masih terjaga. Mereka juga memvisualisasikan situasi dan kondisi dimana seakan-akan orang-orang hadir dan melakukan kegiatan yang kompleks. Oleh karena itu, halusinasi ini sering terjadi dan biasanya diambil sebagai tanda definitif demensia.
Penyebab halusinasi lainnya dari jenis visual meliputi kejang,
migrain, sindrom Anton, Charles Bonnet Syndrome, dan tumor.
Penyebab Halusinasi lainnya
Narkoba dan Alkohol
Ada penyalahgunaan zat obat-obatan tertentu yang mengaburkan garis antara kesadaran dan alam bawah sadar, sehingga menyebabkan halusinasi. Begitu juga mengkonsumsi alkohol juga akan menyebabkan efek yang sama. Obat terlarang ini termasuk ganja, happy mushroom, ekstasi, dan LSD. Terjadinya halusinasi karena mengambil obat-obatan ini adalah umum. Salah satu gejala penarikan obat ini juga termasuk halusinasi.
Ada penyalahgunaan zat obat-obatan tertentu yang mengaburkan garis antara kesadaran dan alam bawah sadar, sehingga menyebabkan halusinasi. Begitu juga mengkonsumsi alkohol juga akan menyebabkan efek yang sama. Obat terlarang ini termasuk ganja, happy mushroom, ekstasi, dan LSD. Terjadinya halusinasi karena mengambil obat-obatan ini adalah umum. Salah satu gejala penarikan obat ini juga termasuk halusinasi.
Kelelahan dan Letih
Ketika seseorang sangat lelah dan letih, masih ada hubungan yang sangat kecil antara terjaga dan tidur. Otak lelah dan tidak dapat bekerja maksimal dari kemampuannya, sehingga mengaburkan garis antara apa yang nyata dan apa yang halusinasi. Kelelahan juga adalah faktor penyebab yang lebih umum dari halusinasi.
Ketika seseorang sangat lelah dan letih, masih ada hubungan yang sangat kecil antara terjaga dan tidur. Otak lelah dan tidak dapat bekerja maksimal dari kemampuannya, sehingga mengaburkan garis antara apa yang nyata dan apa yang halusinasi. Kelelahan juga adalah faktor penyebab yang lebih umum dari halusinasi.
Daftar
Pustaka
·
Dalami, E., Suliswati., Rochimah., Suryati, K, R.
& Lestari, W. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan
Gangguan Jiwa. Penerbit: Trans Media,Jakarta.
·
Maramis, W, F. 2004. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University
Press. Surabaya.
·
Nasution, Saidah, S. 2003. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Perubahan Sensori Persepsi:
Halusinasi. http://usupress.usu.ac.id.
·
Stuart & Sundeen. 1998. Buku Saku Keperwatan Jiwa, Edisi 3. EGC: Jakarta.
·
Townsend, C, Mary. 2002. Psychiatric Mental Health Nursing Consepts of Care,ed.4.
Davis Company. Philadelphia.